28 January 2015

,

Tren Bisnis Makanan dan Minuman 2015

Pengusaha makanan dan minuman bakal merasakan lezatnya bisnis ini pada tahun 2015. Asalkan mampu berinovasi dan sadar bahwa konsumen makin selektif memilih apa yang menjadi kebutuhannya.

Tren Bisnis Makanan dan Minuman 2015
Pengusaha makanan dan minuman bakal merasakan lezatnya bisnis ini pada tahun 2015. Asalkan mampu berinovasi dan sadar bahwa konsumen makin selektif memilih apa yang menjadi kebutuhannya.

Bisnis makanan dan minuman pada 2015 bisa menjadi pilihan yang pas untuk berinvestasi. Namun, sebelum mulai berinvestasi di bidang ini, perlu strategi khusus untuk mengenali pola konsumsi masyarakat. Jangan sampai gulung tikar gara-gara salah membaca kecenderungan masyarakat dalam mengonsumsi makanan dan minuman.


Bagi Anda yang sudah mantap berencana memulai bisnis ini juga perlu mengetahui jenis-jenis makanan dan minuman yang diinginkan masyarakat. Ini lantaran tiap tahun orang bisa bosan dan berubah selera. Tahun mendatang, tentu belum sama dengan tahun ini.

Lalu, bagaimana tren bisnis makanan dan minuman di 2015?


Menurut Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Rachmat Hidayat, bisnis makanan dan minuman sangat tergantung pada perubahan gaya hidup (lifestyle) masyarakat. Gaya hidup masyarakat ini dipengaruhi dengan tingkat pendapatan dan pembelian masyarakat terhadap suatu barang atau jasa. Atau boleh juga dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.

Saat ini PDB per kapita Indonesia mencapai 1810,31 dolar AS/kapita. Angka ini meningkat hampir 600 dolar AS dari 2006. Artinya, tingkat pendapatan masyarakat makin tinggi. Kelas menengah juga melonjak seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang terus merangkak naik.


“Kalau soal perekonomian, dulu itu bisa dibilang masyarakat masih miskin. Waktu mereka banyak tapi duitnya kurang. Nah, sekarang kan ekonomi berkembang,” kata Rachmat di Jakarta, pekan lalu.

Seiring peningkatan PDB per kapita, makanan dan minuman siap santap bakal makin tinggi peminat. Terjerat kesibukan sehari-hari, orang-orang sudah tak punya banyak waktu untuk mengolah makanan dan minuman sendiri. “Makanan siap santap akan tetap menjadi tren pada 2015. Sama seperti dua-tiga tahun lalu,” lanjut Rachmat.

Selain itu, kata dia, tren minuman siap saji tahun 2015 masih didominasi minuman kemasan. Minuman kemasan yang saat ini beredar di warung-warung modern mulai menunjukkan inovasi baru.Misalnya saja minuman kemasan kopi, teh, atau susu. Jenis minuman ini sebenarnya sudah marak sejak awal tahun 2014, namun diperkirakan akan terus menjamur di 2015.


---------------------------------------------------------

Simak juga topik populer 2015:
1) Tren Ekspor Produk Makanan dan Minuman Indonesia Makin Positif
2) 2015: Investasi Sektor Makanan Diprediksi Tumbuh 25%
3) 2015: Prediksi Pertumbuhan Industri Minuman Capai 12%
4) Investasi Sektor Makanan Topang Pertumbuhan Industri di 2015

5) Tren Bisnis Makanan dan Minuman 2015

---------------------------------------------------------

 
“Kopi, teh, susu di dalam botol plastik. Itu lifestyle-nya ke sana. Orang sekarang sudah tak punya waktu. Jadi mereka akan mencari sesuatu yang ready to eat-ready to drink,” ungkap Rahmat.

Bagi yang punya rencana membuka restoran atau kafe, disarankan agar fokus memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi pengunjung. Ini lantaran akan banyak orang mengkompensasikan waktu bekerja untuk berlama-lama di sebuah restoran atau kafe. Restoran atau kafe yang menyediakan tempat duduk nyaman dan internet gratis akan lebih disukai konsumen. Selanjutnya, tinggal mengatur menu agar pelanggan bisa menikmati lebih banyak ragam santapan dan minuman untuk teman bekerja atau sekadar nongkrong.
.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat sudah tergerak akan pentingnya makanan sehat. Di sinilah peluang untuk mengembangkan makanan ringan sehat, seperti candybar. Menurut Rachmat, komponen tentang kandungan pokok dalam makanan ringan sangat penting untuk ditonjolkan dalam kemasan.


“Misalnya, makanan tersebut terbuat dari kedelai dengan nilai protein tinggi. Makanan yang rendah gula (low sugar) dan tidak menyebabkan obesitas. Itu akan menarik untuk ditawarkan pada konsumen. Orang makin concern dengan kesehatan,” ujarnya.
Consumedia Indonesia