Artikel Lainnya

20 November 2016

Melihat Prospek Ekonomi Indonesia 2017

Prospek Ekonomi Indonesia 2017
Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil, hal ini didorong oleh konsumsi swasta dan didukung peningkatan belanja pemerintah. "Stabilitas ekonomi kita terjaga, walaupun investasi pemerintah pada triwulan terakhir tidak terlalu baik. Karena kita sedang meng-adjust perkembangan ekonomi. Namun cadangan devisa kita meningkat, dan inflasi juga terkendali."jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Penyampaian Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017, di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Darmin menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan reformasi di bidang ekonomi. "Pada 2014 pemerintah telah mengalihkan subsidi BBM ke pembangunan infrastruktur dan bantuan sosial. Perubahan alokasi subsidi yang awalnya hanya untuk BBM kemudian dialihkan ke infrastruktur menjadi dasar untuk yakinkan negara lain untuk berinvestasi di Indonesia."tambahnya.

Milestone pembangunan infrastruktur 2016 adalah percepatan infraatruktur. Hal ini ditunjukkan dengan komitmen pemerintah dengan mengembangkan proyek pipeline untuk dorong pembangunan infrastruktur. Selain itu perlu  perbaikan iklim usaha dan mengembangkan kebijakan yang mempermudah investasi infrastruktur."Proyek Strategis Nasional Indonesia sentris mencakup 225 proyek dan 1 program kelistrikan yang tersebar di seluruh Indonesia dan meliputi 14 sektor." ungkap Darmin.

Prospek Ekonomi Indonesia ke Depan

Berdasarkan asumsi APBN 2017 maka diproyeksikan bahwa pada tahun 2017 Indonesia akan tumbuh sebesar 5.1% dengan tingkat inflasi yang terjaga. "Pertumbuhan yang lebih tinggi didorong oleh reformasi fiskal melalui pengurangan subsidi dan penargetannya yang lebih baik serta strategi penerimaan jangka menengah yang fokus pafa keberlanjutan. Kemudian kita perlu melanjutkan reformasi struktural Paket Kebijakan Ekonomi Tahap 2."jelas Darmin.

Peningkatan daya saing industri sendiri dijelaskan oleh Menteri Darmin dilakukan melalui hilirisasi industri. Dimana akselerasi industrialisasi dilakukan melalui pengembangan perwilayahan industri di luar Jawa, Pertumbuhan populasi industri dan peningkatan produktivitas serta daya saing. Terutama untuk industri kimia, tekstil, dan aneka; industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika; dan industri argo.

Beberapa Menteri turut hadir pada Penyampaian Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017, diantaranya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Dalam Negeri  Tjahjo Kumolo , dan Kepala  Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.*

kominfo.go.id

17 November 2016

Presiden Ingin Buah Nusantara Kuasai Pasar Dunia

Presiden Ingin Buah Nusantara Kuasai Pasar Dunia
Presiden Joko Widodo menginginkan Indonesia mendominasi pasar ekspor buah di dunia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta juga menanam buah.

"Perlu memperbesar kapasitas produksi sehingga kita harapkan ekspor buah-buahan kita bisa naik. Ke depan kita juga ingin meningkatkan BUMN agar tidak hanya nanamnya sawit, karet," kata Jokowi dalam acara Fruit Indonesia 2016 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Presiden menginginkan ada lahan hingga 50 ribu hektare khusus untuk menanam buah-buahan. Tahun ini, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Institut Pertanian Bogor mulai membangun daerah-daerah khusus yang memiliki potensi dikembangkan.

Menurut dia, saat ini Indonesia memang masih kekurangan buah seperti manggis, nanas, dan alpukat. Padahal, kata dia, permintaan dari luar terhitung banyak.

"Kalau pisang itu kita masih kalah dengan negara lain, tapi yang barang ini kita punya kekuatan," jelas dia.

Jokowi mengatakan, salah satu yang harus diperhatikan ialah masalah pascapanen. Pemotongan, seleksi, hingga pengemasan buah harus diperhatikan.

"Diseleksi mana yang kualitas a, kualitas b, kualitas c," papar dia.

Genjot Daya Saing Buah Lokal

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) diminta untuk terus menggenjot produksi buah lokal dengan kualitas setara buah impor. Permintaan itu langsung diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo dalam acara Fruit Indonesia 2016, Parkir Timur Senayan.

Dalam sambutannya, Jokowi menyebut bahwa buah lokal Indonesia hanya masuk dalam 20 perdagangan global. Pengelolaan menjadi kendala utama kualitas buah lokal tertinggal dari buah-buah impor.

"Saya minta agar buah-buah lokal dikelola dengan baik. Saya perintahkan ke Menteri Pertanian. Kalau kelapa sawit bisa mencapai 14 juta hektare (ha), mestinya buah-buahan pun seperti yang dimiliki sawit. Kalau itu betul-betul, pasar buah dunia akan dikuasai Indonesia," ujar Jokowi, di Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Menteri Kordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, meningkatnya konsumsi buah menjadi jalan bagi buah lokal untuk menggenjot produksi dan kualitas. Keunggulan yang diakuinya berbeda dengan buah impor harus ditampilkan untuk meraup pasar buah dalam negeri dan global.

"Sudah saatnya Indonesia menampilkan keunggulannya baik di tingkat nasional maupun internasional di tengah meningkatnya konsumsi buah dunia," tutur dia.

Sementara itu, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto mengungkapkan, acara Fruit Indonesia 2016 merupakan bagian dari Gerakan Revolusi Orange yang digagas pemerintah.

"Revolusi Orange sebagai kampanye buah nusantara bertaraf internasional yang memamerkan produk-produk unggulan potensial ekspor dan juga mendatangkan buyer internasional," papar dia.

Dia menjelaskan, Revolusi Orange merupakan gerakan nasional yang digagas oleh kelompok masyarakat yang difasilitasi oleh IPB sebagai upaya mengubah secara revolusioner pengembangan, kebijakan dan pasar buah nusantara melalui dukungan dan fasilitas pengembangan produksi berbasis kawasan perkebunan.

"Kemudian, kampanye konsumsi buah nusantara, peningkatan ekspor buah tropis serta penurunan ketergantungan buah impor," tegas Herry.

Dalam Fruit Indonesia 2016, akan pula dilaksanakan program bertaraf international seperti Exhibition, Business Matchmaking, Conference/Forum, Export Business Coaching. Serta program bertaraf nasional yaitu Fruit Arrangement Contest, Fruitpreneur Got Talent, Sales Exhibition, Carnival, Various Competition.

Event ini dihadiri tak  kurang dari 15 ribu pengunjung nasional dan internasional yang terdiri dari Pelaku Bisnis, Produsen Olahan Makanan dan Minuman, Asosiasi atau Kamar Dagang Negara Tujuan Ekspor, Institusi Pemasaran Internasional, Institusi Kerjasama Perdagangan Internasional. Produsen dalam negeri, Collector, Perusahaan Pengolahan, Pengemas, Pedagang, Eksportir, Outlet Modern Eceran Institusi Pemerintah dan Masyarakat Umum.

Negara-negara yang akan hadir meliputi negara ASEAN (sembilan negara), Asia (Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea Selatan), Timur Tengah (UAE, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Jordan), Australia, New Zealand, Eropa dan Amerika. Melibatkan 10 ribu peserta karnaval dan 500 eksibitor.

Acara yang diklaim bertaraf internasional ini juga akan menampilkan Benih dan Bibit Buah, Pupuk, Pestisida dan Hormon, Buah Segar, Buah Olahan, Industri Kesehatan berbahan baku buah, Industri Pariwisata berbasis kebun buah nusantara meliputi peralatan pertanian, mesin pertanian, media pertanian, outlet buah dan lembaga keuangan.*


metronews.com

2016: Impor Barang Konsumsi Justru Tumbuh 14 Persen

2016: Impor Barang Konsumsi Justru Tumbuh 14 Persen
Sepanjang Januari-Oktober 2016, nilai impor barang konsumsi mencatat pertumbuhan 13,75 persen menjadi US$ 10 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa sektor konsumsi masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Sementara nilai impor bahan baku periode Januari - Oktober 2016 mengalami penurunan 8,6 persen menjadi US$ 82,1 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula impor barang modal pada Januari-Oktober 2016 juga menyusut 11,8 persen menjadi US$ 18,04 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa perekonomian domestik masih lesu sehingga kebutuhan bahan baku dan barang modal turun.

Total nilai impor Indonesia pada Januari-Oktober 2016 mencapai US$ 110,17 miliar turun 7,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula total nilai ekspor  Januari-Oktober 2016 juga turun 8,04 persen menjadi US$ 117,09 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya.*

katadata

Indonesia, Negara Berpenduduk Muslim Terbesar Dunia

Indonesia, Negara Berpenduduk Muslim Terbesar Dunia
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia. Berdasarkan data yang dilansir oleh The Pew Forum on Religion & Public Life, penganut agama Islam di Indonesia sebesar 209,1 juta jiwa atau 87,2 persen dari total penduduk. Jumlah itu merupakan 13,1 persen dari seluruh umat muslim di dunia.

Negara berpenduduk muslim kedua terbesar adalah India. Penganut Islam di negara dengan populasi terbesar ke-dua di dunia itu mencapai 176,4 juta jiwa atau 14,4 persen dari total populasi. Jumlah itu merupakan 11 persen dari total penganut agama Islam di dunia.

Penganut agama Islam terkonsentrasi di wilayah Asia-Pasifik (62 persen). Sebagian lainnya berada di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (20 persen), serta Sub-Sahara Afrika (16 persen). Penduduk muslim juga terdapat di wilayah Eropa (3 persen). Sementara itu penduduk Islam di Amerika Utara, Amerika Latin dan Karibia jumlahnya kurang dari satu persen.

katadata

Jurus Pemerintah Hadapi Tantangan Ekonomi 2017

Tiga Jurus Pemerintah Hadapi Tantangan Ekonomi 2017
Pemerintah perlu bersiap menghadapi tantangan perekonomian tahun depan. Dengan harga komoditas yang masih rendah, perlambatan ekonomi Cina, dan kebijakan proteksionisme presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kondisi ekonomi tahun 2017 diperkirakan bakal lebih berat.

Ekonom sekaligus Rektor Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan tidak akan naik signifikan. Alasannya, faktor global seperti terpilihnya Trump akan turut menekan ekonomi Indonesia. Hal ini terjadi karena Trump berencana menurunkan pajak korporasi dan meningkatkan belanja. Alhasil, beban fiskal AS semakin besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, bank Sentral AS, yaitu The Federal Reserve, harus menaikan suku bunganya. Hal ini akan menyebabkan keluarnya dana dari berbagai penjuru dunia untuk kemudian masuk ke AS. "Tahun depan akan menghadapi dinamika yang tidak pasti. Mungkin 2017 perbaikan ekonomi tidak akan naik signifikan," ujarnya dalam acara DBS Asian Insight Conference 2016 bekerja sama dengan Katadata di Jakarta, Kamis (17/11).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan, setidaknya ada tiga langkah yang telah disiapkan pemerintah untuk menghadapi tantangan ekonomi tahun 2017. Pertama, kebijakan fiskal yang kredibel.

Menurut dia, sebenarnya upaya ini sudah mulai dilakukan pemerintah dengan memotong subsidi menjadi tepat sasaran dan menggunakan dananya untuk pembangunan infrastruktur. Namun, pembangunan infrastruktur tentunya memerlukan dana dan bisa diperoleh dari penerimaan pajak.

Untuk mencapai penerimaan pajak yang baik, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty). Suahasil mengatakan, kebijakan ini bukan bertujuan mengumpulkan penerimaan tahun ini, namun, tujuan utamanya adalah membangun hubungan baru dengan basis data yang baru dan lebih lengkap antara pemerintah dengan wajib pajak.

Jadi, hasil kebijakan ini akan berguna di tahun depan dan tahun-tahun mendatang. "Jika kredibel, investor dan masyarakat akan lebih yakin. Dengan demikian, pertumbuhan bisa dicapai, karena sumber pertumbuhan hanya dari konsumsi dan investasi," ujar Suahasil.

Selain itu, untuk melengkapi kredibilitas fiskal ini, pemerintah akan mereformasi sistem perpajakan melalui amendemen Undang-Undang Perpajakan, khususnya Pajak Penghasilan (PPh). Suahasil mengakui, amendemen UU ini akan menyentuh tarif pajak. Namun, dia enggan menyatakan apakah pemerintah akan menurunkan tarif PPh tersebut atau tidak.

Yang jelas, dia menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan 'perang' tarif pajak dengan negara lain. Suahasil mengatakan, pemerintah tidak mungkin menetapkan pajak serendah-rendahnya. Sebab, kondisi geografis yang berbentuk kepulauan membutuhkan banyak dana untuk membangun infrastruktur. Yang diutamakan pemerintah adalah memberikan sistem yang lebih baik, penggunaan pajak yang benar, dan masyarakat lebih patuh membayar pajak.

Kedua, penetapan kebijakan moneter yang tepat. Namun, Suahasil tidak menjelaskan secara rinci bentuk kebijakan tersebut. Ia hanya berharap, kebijakan moneter dapat segera dirasakan oleh masyarakat, terutama investor, agar iklim investasi Indonesia semakin menarik.

Ketiga, reformasi struktur regulasi di Indonesia. Menurut Suahasil, pemerintah harus langsung masuk ke sektor rill untuk mengatur kemudahan-kemudahan dan pemberian insentif kepada industri utama. Salah satu caranya dengan terus mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Paket ekonomi ke-14 yang merupakan paket teranyar, mengatur tentang e-commerce. Dengan potensi e-commerce yang cukup besar, manfaat ekonominya akan dirasakan secara bertahap. "Ini resep pertumbuham ekonomi jangka menengah dan jangka panjang nasional," ujarnya.*

katadata.com

14 November 2016

Kuartal III 2016: Keyakinan Konsumen Indonesia Makin Optimis

Kuartal III 2016: Keyakinan Konsumen Indonesia Makin Optimis
Tingkat Keyakinan Konsumen online Indonesia terus meningkat. Indonesia masih menjadi negara paling optimistis ketiga di dunia setelah India (133) dan Filipina (132) dengan skor indeks 122, meningkat 3 poin persentase (pp) dari kuartal kedua 2016 lalu. Demikian menurut hasil Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions Q3 2016 yang dirilis Nielsen baru-baru ini.

Peningkatan ini didorong oleh dua indikator yaitu Keyakinan Konsumen akan Kondisi Keuangan Pribadi dalam 12 Bulan Ke Depan dengan skor 84 (meningkat 3 pp dibandingkan dengan kuartal sebelumnya), dan Keinginan Berbelanja dengan skor 60 (meningkat 6 poin dari 54 persen di kuartal sebelumnya). Sebaliknya, indikator Keyakinan Konsumen akan Prospek Lapangan Pekerjaan menunjukkan sedikit penurunan dengan skor 68 persen, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 70%.

Dalam satu tahun terakhir, persepsi konsumen Indonesia akan keadaan resesi ekonomi juga terus mengalami pemulihan. Di kuartal ketiga tahun ini, konsumen online yang berpendapat bahwa negara sedang tidak dalam keadaan resesi ekonomi adalah sebesar 53 persen, terus meningkat sejak kuartal kedua 2016 (49%), kuartal pertama 2016 (42%), kuartal keempat 2015 (31%) dan kuartal ketiga 2015 (27%).


“Upaya pemerintah mengeluarkan paket deregulasi ekonomi disusul dengan kebijakan Tax Amnesty tampaknya direspon dengan positif, baik oleh konsumen maupun dunia industri, “ungkap Agus Nurudin, Managing Director, Nielsen Indonesia. “Optimisme konsumen Indonesia yang terus meningkat menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih menjanjikan bagi para pelaku industri yang ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. lanjutnya. 

Simak juga: Optimisme Konsumen Indonesia Kuartal II 2016 

Di sisi lain, Kondisi Ekonomi masih menjadi kekhawatiran utama konsumen Indonesia, meski skornya menurun ke 31 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 38 persen.  Kekhawatiran akan terorisme dan stabilitas politik muncul di kuartal ini. Sebanyak 17 persen konsumen online menyatakan khawatir akan terorisme. Kekhawatiran ini juga meningkat di wilayah Asia Pasifik, Eropa dan Amerika Utara. Sementara itu sebanyak 13 persen konsumen menyatakan khawatir akan Stabilitas Politik.

"Terjadinya penembakan di Orlando, AS, bulan Juni dan peristiwa penabrakan truk pada perayaan Bastille di Paris bulan Juli lalu membuat konsumen menjadi khawatir akan aksi terorisme. Sementara itu persiapan mulainya periode Pilkada serentak juga telah menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas politik." ujar Agus. "Namun kami yakin pemerintah akan dapat menjaga kondisi politik tetap kondusif, dan tentunya ini harus didukung oleh semua pihak, termasuk yang paling penting adalah media dalam menyiarkan berita-berita politik."

Terkait penghematan biaya rumah tangga pada kuartal ini, konsumen online Indonesia yang memilih untuk Menunda Mengganti Teknologi Baru meningkat menjadi 47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 46 persen.  47 persen konsumen mengatakan mereka mengurangi belanja baju baru, dan 42 persen menunda mengganti peralatan rumah tangga.

Pada kuartal ini, konsumen yang mengalokasikan kelebihan dana mereka untuk menabung meningkat menjadi 77 persen. 42 persen menyatakan menggunakannya untuk berlibur, dan 29 persen mengalokasikannya untuk investasi di saham atau reksadana.

Secara global, tren Keyakinan Konsumen sangat bervariasi. Lima dari Top 10 negara dengan tingkat ekonomi tertinggi mencatat skor optimistis yaitu 100 atau lebih, yaitu: Amerika Serikat (106), Cina (106), Inggris (106), Jerman (100) dan India (133). Dari total 63 negara yang disurvei, skor tertinggi dan terendah berada di wilayah Asia Pasifik, yaitu di India (133) dan Korea Selatan (46). Kesenjangan skor Keyakinan Konsumen yang besar juga terlihat di wilayah Eropa (dari 107 ke 50), Amerika Latin (dari 104 ke 57) dan Afrika/Timur Tengah (dari 108 ke 70). Hanya wilayah Amerika Utara yang menunjukkan kesenjangan rendah, yaitu 106 di Amerika Serikat dan 97 di Kanada.

Tentang Survei Global Nielsen

Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions dilaksanakan pada 10 Agustus – 2 September 2016 dan mensurvei lebih dari 30.000 konsumen online di 63 negara. Meskipun metode survei online dapat menjangkau skala yang besar secara global, survei ini hanya memberikan perspektif dari kebiasaan pengguna internet, bukan populasi total.   

Di negara-negara berkembang dimana penetrasi online masih bertumbuh, populasi pengguna internet sangat mungkin berusia lebih muda dan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum di negara tersebut. Tiga negara Sub-Sahara Afrika (Ghana, Kenya dan Nigeria) menggunakan metodologi survei melalui perangkat mobile dan tidak diikutsertakan dalam data pada laporan ini. Sebagai tambahan, hasil survei ini adalah berdasarkan perilaku yang diklaim oleh responden, bukan data yang diukur secara aktual. 

Perbedaan budaya dapat mempengaruhi hasil pengukuran mengenai pandangan responden terhadap keadaan ekonomi di masing-masing negara. Hasil yang dilaporkan tidak ditujukan untuk mengontrol atau mengkoreksi perbedaan-perbedaan tersebut, karena itu butuh perhatian khusus pada saat membuat perbandingan antar negara dan wilayah, khususnya pada saat melewati batas-batas wilayah regional.

nielsen.com

Top Ad 728x90