Pasar minuman ringan di Indonesia saat
ini didominasi oleh air minum dalam kemasan (AMDK) yang memiliki market share
84% dari total pasar minuman ringan siap saji dalam kemasan. Sedangkan
minuman ringan berkarbonasi cenderung stagnan.
Ini dimungkinkan karena semakin banyaknya pilihan produk minuman. Minuman berkarbonasi saat ini meraih pangsa pasar sebesar 3,6%. Pertumbuhan minuman lainnya di luar AMDK (RTD Water) yang mencolok adalah minuman isotonik, minuman sari buah dan minuman beraroma buah.
Ini dimungkinkan karena semakin banyaknya pilihan produk minuman. Minuman berkarbonasi saat ini meraih pangsa pasar sebesar 3,6%. Pertumbuhan minuman lainnya di luar AMDK (RTD Water) yang mencolok adalah minuman isotonik, minuman sari buah dan minuman beraroma buah.
Menurut data Euromonitor International, pada 2010 teh masih memiliki
volume yang sama dengan minuman berkarbonasi, namun diperkirakan pada tahun
2011 dan seterusnya akan memiliki market share yang lebih tinggi.
Minuman ringan teh mempunyai market share sebesar 8,9% di tahun 2010, dan trennya akan terus berkembang. Apalagi muncul inovasi minuman teh dalam berbagai varian, seperti teh berkarbonasi, teh mengandung sari buah, antioksidan dan lainnya, seperti TEBS, Fruitea, Frestea, dan lainnya.
Minuman ringan teh mempunyai market share sebesar 8,9% di tahun 2010, dan trennya akan terus berkembang. Apalagi muncul inovasi minuman teh dalam berbagai varian, seperti teh berkarbonasi, teh mengandung sari buah, antioksidan dan lainnya, seperti TEBS, Fruitea, Frestea, dan lainnya.
Simak juga:
1) Tren Ekspor Produk Makanan dan Minuman Indonesia Makin Positif
2) 2015: Investasi Sektor Makanan Diprediksi Tumbuh 25%
3) 2015: Prediksi Pertumbuhan Industri Minuman Capai 12%
4) Investasi Sektor Makanan Topang Pertumbuhan Industri di 2015
5) Tren Bisnis Makanan dan Minuman 2015
Sementara itu, minuman ringan yang mengandung komposisi bahan untuk mengontrol berat badan dan membakar kalori (seperti L-carnitine, conjugated linoleic acid [CLA] dan ekstrak teh hijau) mengalami pertumbuhan luar biasa selama bertahun-tahun di Asia Pasifik sejak tahun 2006.
Begitu juga dengan minuman formulasi untuk mendukung penampilan fisik seperti melalui penambahan kolagen, co-enzim Q10, lidah buaya dan lycopene. Apalagi didukung dengan iklan yang gencar. Coca Cola misalnya, tahun lalu di Indonesia menambah koleksi Green Teanya menjadi dua varian, yaitu jeruk orange plus lidah buaya (aloe vera orange blossom) dan ginseng jahe (ginger ginseng).
1) Tren Ekspor Produk Makanan dan Minuman Indonesia Makin Positif
2) 2015: Investasi Sektor Makanan Diprediksi Tumbuh 25%
3) 2015: Prediksi Pertumbuhan Industri Minuman Capai 12%
4) Investasi Sektor Makanan Topang Pertumbuhan Industri di 2015
5) Tren Bisnis Makanan dan Minuman 2015
Sementara itu, minuman ringan yang mengandung komposisi bahan untuk mengontrol berat badan dan membakar kalori (seperti L-carnitine, conjugated linoleic acid [CLA] dan ekstrak teh hijau) mengalami pertumbuhan luar biasa selama bertahun-tahun di Asia Pasifik sejak tahun 2006.
Begitu juga dengan minuman formulasi untuk mendukung penampilan fisik seperti melalui penambahan kolagen, co-enzim Q10, lidah buaya dan lycopene. Apalagi didukung dengan iklan yang gencar. Coca Cola misalnya, tahun lalu di Indonesia menambah koleksi Green Teanya menjadi dua varian, yaitu jeruk orange plus lidah buaya (aloe vera orange blossom) dan ginseng jahe (ginger ginseng).
Euromonitor Internasional melaporkan
pertumbuhan volume penjualan jus buah/sayuran dan teh RTD mencapai 54% dan 44%
sepanjang 2005 hingga 2009. Sebaliknya, minuman karbonasi cola standar hanya
tumbuh sebesar 14% pada periode yang sama. Sedangkan, minuman dengan klaim no calories
atau sedikit gula (less sugar) memiliki peluang pasar yang terbuka lebar,
termasuk minuman karbonasi less sugar atau no calories.
Minuman yang dikonsumsi orang
Indonesia
Hampir 38% penduduk Indonesia menyukai
minuman panas, seperti hot tea, hot coffee,dan hot chocolate. Sementara
itu 12% menyukai iced tea drinks dan 50% sisanya mengonsumsi minuman siap saji
dalam kemasan. Sayangnya analisa ini tidak memperhitungkan air minum
(baik dalam kemasan atau hasil proses rumah tangga), yang tentunya sangat besar
(lebih dari 80%) seperti digambarkan pada grafik Gambar 2.
Pada tahun 2009, penduduk Asia Pasifik
mengonsumsi lebih dari 131.267 juta liter minuman ringan kemasan dan memberikan
kontribusi lebih dari 70% terhadap total volume pertumbuhan global, meskipun
secara umum ekonomi dunia sedang mengalami penurunan pada tahun tersebut. Namun, untuk negara-negara berkembang seperti Cina, India, Indonesia dan
Vietnam, konsumsi per kapitanya masih lebih rendah dibanding Negara-negara
Eropa dan Amerika.
Bahkan untuk kawasan ASEAN pun tingkat
konsumsi minuman ringan di Indonesia masih tergolong rendah bila dibandingkan
dengan Negara lainnya yang penduduknya jauh di bawah Indonesia. Di Indonesia
konsumsi minuman karbonasi sebesar 33 liter per kapita, AMDK 53 liter
perkapita, sedangkan tingkat konsumsi minuman ringan lainnya lebih rendah
lagi.
Bandingkan dengan Thailand yang saat ini konsumsi minuman ringannya sudah mencapai 89 liter perkapita, Singapura 141 liter perkapita, Filipina 122 liter per kapita. Tahun 2015, Indonesia menargetkan konsumsi rata-rata minuman ringan sebesar 100 liter perkapita. Atau dengan kata lain jika pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2015 sudah mencapai 250 juta jiwa lebih, maka target dari produsen industri minuman ringan adalah konsumsi pertahun yang dapat dipasarkan sebanyak 25.250 juta liter.
Suatu peluang yang masih terbuka lebar, mengingat masih rendahnya tingkat konsumsi minuman ringan Indonesia.
Bandingkan dengan Thailand yang saat ini konsumsi minuman ringannya sudah mencapai 89 liter perkapita, Singapura 141 liter perkapita, Filipina 122 liter per kapita. Tahun 2015, Indonesia menargetkan konsumsi rata-rata minuman ringan sebesar 100 liter perkapita. Atau dengan kata lain jika pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2015 sudah mencapai 250 juta jiwa lebih, maka target dari produsen industri minuman ringan adalah konsumsi pertahun yang dapat dipasarkan sebanyak 25.250 juta liter.
Suatu peluang yang masih terbuka lebar, mengingat masih rendahnya tingkat konsumsi minuman ringan Indonesia.
Peluang terbesar bagi pertumbuhan
minuman ringan (siap saji) di untapped market adalah jumlah populasi remaja dan
anak muda yang besar. Kaum remaja dan anak muda merupakan populasi yang
produktif dan berpotensi mempunyai tingkat disposible income yang meningkat.
Urbanisasi
Konsumen di negara-negara berkembang
seperti Cina, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam mulai
mencari minuman fungsional, baik untuk kesehatan maupun kecantikan.
Apalagi dengan adanya urbanisasi yang juga menjadi faktor pendorong
meningkatnya permintaan terhadap pangan fungsional. Gaya hidup perkotaan
dengan tingkat kesibukan tinggi ternyata juga mendorong permintaan akan produk
minuman yang praktis.
Dalam pasar yang matang seperti Hong
Kong, Jepang, Singapura dan Taiwan, konsumen menghendaki produk yang dapat
memberi manfaat buat kecantikannya. Di Taiwan contohnya, Ya Deep Ocean Water
meluncurkan minuman olahraga bernama EDF yang mengandung epigallocatechin
gallate (EGCG, antioksidan yang terdapat dalam teh), air laut dalam, dan serat.
Minuman ini diklaim dapat membantu
pembakaran lemak dan meningkatkan efektivitas latihan seseorang.
Sementara itu di Cina, Suntory’s Black teh Oolong, yang merupakan minuman tanpa
gula dan mengandung polifenol teh dalam konsentrasi tinggi diterima dengan baik
di kalangan konsumen wanita Cina meskipun harganya mencapai $ 1,80 per 340ml
botol - artinya sekitar 35% lebih mahal dibandingkan produk teh RTD standar.
Farchad Poeradisastra
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM)



