30 December 2014

Minuman Berkhasiat dari Beras Hitam Organik

Wedang beras hitam organik diyakini bisa menyembuhkan penyakit seperti tumor jinak dan diabetes. Produk lokal ini susah menembus ekspor karena terbentur aturan, padahal produk herbal asing leluasa masuk ke pasar domestik.

Wedang beras hitam organik diyakini bisa menyembuhkan penyakit seperti tumor jinak dan diabetes. Produk lokal ini susah menembus ekspor karena terbentur aturan, padahal produk herbal asing leluasa masuk ke pasar domestik.

Beras hitam yang kaya serat, antioksidan dan karbohidrat kompleks dipercaya selama ribuan tahun sebagai tanaman berkhasiat untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit.


Hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM) serta beberapa institusi lain menyebutkan, pangan lokal varietas asli Indonesia ini berkhasiat membersihkan racun dari dalam tubuh, meningkatkan kekebalan tubuh, dan memberi nutrisi bagi sel tubuh untuk melakukan pemulihan.

Khasiat beras hitam itu sudah dirasakan oleh Sochibudin (25) saat sakit karena benjolan kecil tumbuh di tenggorokannya. Saking sakitnya, ia susah menelan makanan selama tiga bulan.

“Itu sekitar 2009, benjolannya semacam tumor jinak. Teman menyarankan minum air rebusan beras hitam pada pagi dan sore hari. Hari pertama minum, badan saya langsung meriang, ternyata proses detox bekerja atau racun tubuh dikeluarkan. Hari kelima benjolan itu hilang dan saya sembuh,” tutur Sochibudin kepada redaksi dalam acara Green Food Festival di Jakarta, Sabtu, 27 Desember 2014.

Setelah itu, ia mulai banyak membaca riset khasiat pangan organik ini. Ia mengunjungi beberapa petani yang khusus menanam beras hitam di Malang, Jawa Timur. Dari mereka ia mendengar penyandang diabetes dan penderita sakit lain bisa sembuh karena rutin mengonsumsi beras hitam ini.

Sochibudin yang menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian Terpadu Universitas Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat ini ingin mensosialisasikan manfaat beras hitam. Ia bersama tiga orang rekannya yang pernah bertani di Indramayu juga mengkampanyekan pertanian organik. Sebab, beras hitam hanya mau tumbuh jika ditanam dengan cara organik.

Dulu, ia sering melihat proses kerja petani di kampungnya menggunakan pupuk kimia yang merusak tanaman, tanah, dan lingkungan. “Penggunaan pestisida setiap tahun dosisnya meningkat karena hamanya semakin kebal. Kalau cara itu diteruskan, lahan akan rusak. Beberapa tahun kemudian, tanah akan rusak dan tidak lagi bisa ditanam,” katanya.

Bersama rekannya ia lantas mulai mencari konsumen pangan organik dengan mendirikan usaha wedang beras hitam Sanderm. “Kami sepakat mengolah pangan ini menjadi produk minuman wedang yang praktis. Cukup diseduh dengan air panas dan bisa dirasakan khasiatnya,” kata Sochibudin.

Wedang beras hitam

Wedang beras hitam dibuat dari campuran beras hitam dan gula aren organik. Racikan tanpa pengawet itu tahan disimpan selama satu tahun. Dikemas dalam sebuah kotak seberat 115 gram, satu kotak berisi lima kemasan plastik, masing-masing dengan berat 23 gram. Satu kotak harganya Rp 25 ribu.

Pada 2010, produk ini mulai dipasarkan ke beberapa teman di Indramayu. Awalnya, hanya laku 100 kotak. Sambil memasarkan, tim Sochibudin juga melakukan riset bagaimana pengolahan yang tepat untuk produk ini.


“Awalnya beras saya sangrai kemudian digiling. Hasilnya bila disangrai nutrisi berasnya banyak berkurang. Kemudian beras hanya dipanggang dengan suhu tertentu di oven,” katanya.

Riset terus dilakukan dengan meresapkan ekstrak herbal ke dalam tiap bulir beras hitam. Beras itu direndam dua hari dengan air herbal hingga berkecambah. Proses ini mengakibatkan peningkatan nutrisi lima kali lipat lebih banyak dari beras yang belum berkecambah.

Untuk memasok bahan baku beras hitam, timnya mengumpulkan sejumlah petani di Indramayu dan Yogyakarta untuk menyiapkan bahan baku. Tawaran itu disambut petani dengan semangat. Apalagi Sochibudin berani membeli hasil pertanian mereka dengan harga tinggi, empat kali lipat dari harga beras putih, asalkan kualitasnya terjamin.

Masuk ke tahapan produksi, prosesnya agak rumit dan memakan waktu. Semua bahan harus kering tapi tidak boleh terlalu panas. Awetnya harus terjadi secara alamiah. Paling repot adalah saat menggiling bahan utama. Di dalam negeri, belum ada mesin giling yang cocok dengan karakter beras hitam. Pernah ia melakukan uji coba membuat mesin sendiri. Sudah tujuh kali percobaan dengan biaya Rp 40 juta, hasilnya nihil.

“Ada mesin penggiling yang bagus dari Jerman, tapi belum sanggup kami beli karena harganya sangat mahal, mencapai miliaran rupiah,” katanya.

Rutin mengikuti pameran dan memasarkan secara online di www.berashitam.com, penjualan terus meningkat. Setiap pameran sebanyak 70 kotak wedang laku terjual. Konsumen juga banyak yang datang kembali untuk membeli maupun menjadi distributor. Ditangani 25 distributor dari Aceh hingga Sulawesi, penjualan minuman ini tercatat mencapai 5.000 kotak pada Agustus 2014.

Duit yang didapat Sochibudin dari usaha ini pun lumayan, sedikitnya Rp 35 juta per bulan. Pendapatan segitu cukup buat menggaji enam orang karyawan yang bertugas di Jakarta dan Semarang.

Masalah sertifikasi

Sochibudin punya tiga resolusi jelang tahun baru 2015. Pertama, meningkatkan kapasitas produksi hingga 10 ribu kotak. Kedua, mengekspor produknya ke Qatar bila sudah lolos uji sertifikasi. Ketiga, berinovasi membuat sereal dan cemilan ringan dari beras hitam.

Tiga hal itu ia jadikan poin resolusi karena perlu perjuangan untuk mencapainya. Apalagi pemerintah belum berpihak pada produk pangan organik dalam negeri. Lihat saja, kata dia, aturannya rumit terutama untuk keperluan ekspor. Padahal sebaliknya, produk pangan dan herbal asing leluasa masuk ke pasar domestik.

“Biaya sertifikasi organik sangat mahal. Ini aneh karena pemerintah mensubsidi racun pestisida. Tetapi pertanian organik biayanya malah dibebankan kepada petani. Seharusnya terbalik, organik yang disubsidi,” tegasnya.

Menurut dia, sertifikasi pangan organik mestinya gratis. “Jangan seperti sekarang. Sudah mahal, perizinan BPOM dan produk industri rumah tangga sangat susah prosesnya dan banyak syarat yang rumit.” keluhnya.

Ia berharap pemerintah memberikan dukungan terhadap pertanian organik demi menjaga lahan pertanian agar tetap subur. Penggunaan benih lokal yang kuat dan terbiasa hidup bersama hama harus dipertahankan karena merupakan bagian dari keselarasan alam.

varia.id