19 Mei 2026

Jaga Stabilitas Harga, Indonesia Kejar Swasembada Gula Tebu 2027


Target swasembada sudah terdengar sejak lama, sementara di sisi lain Indonesia masih rutin impor. Maka ketika pemerintah kembali memasang target swasembada gula pada 2027, respons publik pun bercampur antara optimistis dan skeptis.

Di tengah situasi ekonomi yang serba tidak pasti, orang sekarang tidak hanya melihat angka produksi. Mereka mulai bertanya lebih jauh:

“Apakah ini benar-benar akan terasa dampaknya buat masyarakat?”

Menurut laporan TIMES Indonesia, akademisi Universitas Brawijaya sekaligus Pakar Ilmu Ekonomi UB, Prof. Setyo Tri Wahyudi, SE, MEc, PhD mengingatkan bahwa target swasembada gula 2027 tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi tebu. Pemerintah dinilai perlu membangun strategi yang benar-benar terintegrasi dari hulu hingga hilir.


Produksi Naik, Tapi Tantangan Masih Banyak

Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi gula kristal putih nasional pada 2023 masih berada di kisaran 2,3–2,4 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun. Artinya, Indonesia masih mengalami defisit gula.

Meski begitu, situasi mulai membaik.

Pada 2024 pemerintah mencatat surplus tipis sekitar 0,2 juta ton, sementara produksi gula nasional pada 2026 diproyeksikan bisa mencapai 3,4 juta ton. Pemerintah sendiri tetap menegaskan target swasembada gula konsumsi pada 2027 tidak bergeser.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menyebut ada tiga strategi utama yang sedang dijalankan, yaitu:

  • bongkar ratoon,

  • pengendalian impor,

  • dan revitalisasi industri gula nasional.

Di atas kertas, semuanya terlihat progresif. Tapi problem sebenarnya memang tidak sesederhana angka produksi.


Kenapa Swasembada Selalu Jadi Isu Sensitif?

Karena gula bukan cuma komoditas.

Buat masyarakat modern, harga kebutuhan pokok punya efek psikologis yang besar. Ketika harga gula naik, orang langsung merasa biaya hidup ikut naik. Ketika impor dibuka, muncul rasa khawatir bahwa produksi dalam negeri belum benar-benar kuat.

Dan menariknya, generasi sekarang juga makin sadar soal rantai ekonomi.

Orang mulai memahami bahwa:

  • petani butuh untung,

  • pabrik gula harus modern,

  • distribusi harus efisien,

  • dan kebijakan pemerintah harus konsisten.

Makanya akademisi UB menyoroti pentingnya strategi “hulu ke hilir”. Sebab kalau hanya fokus meningkatkan hasil panen tanpa membenahi pabrik, distribusi, hingga teknologi produksi, hasil akhirnya bisa tetap tidak maksimal.


Masalah Lama yang Belum Sepenuhnya Selesai

Sebagian besar pabrik gula di Indonesia masih menggunakan teknologi lama dengan efisiensi rendah. Di sisi lain, ketergantungan terhadap impor juga masih menjadi dilema besar.

Impor memang bisa menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tapi ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor ikut naik dan akhirnya harga di tingkat konsumen tetap terasa mahal.

Belum lagi persoalan anggaran.

Pakar ekonomi UB juga mengingatkan bahwa program besar seperti swasembada gula membutuhkan pendanaan jangka panjang yang konsisten. Revitalisasi pabrik, riset bibit unggul, hingga pembangunan infrastruktur distribusi tentu bukan proyek murah.

Dan di era media sosial seperti sekarang, masyarakat juga makin kritis terhadap target-target besar pemerintah. Banyak percakapan publik mempertanyakan apakah swasembada benar-benar akan membuat harga lebih stabil atau hanya menjadi angka bagus di atas presentasi kebijakan.


Pada Akhirnya, Masyarakat Hanya Ingin Hidup yang Lebih Tenang

Mungkin itu inti sebenarnya.

Orang tidak terlalu peduli apakah angka produksinya 2,8 juta atau 3,4 juta ton. Yang masyarakat rasakan adalah:

  • apakah harga gula stabil,

  • apakah kebutuhan pokok mudah didapat,

  • dan apakah hidup terasa sedikit lebih aman dari bulan ke bulan.

Karena di tengah dunia yang makin cepat dan penuh ketidakpastian, hal-hal sederhana seperti harga gula ternyata bisa sangat memengaruhi rasa tenang banyak orang.

Dan mungkin itu sebabnya isu swasembada pangan selalu terasa emosional di Indonesia. Bukan semata soal pertanian, tapi soal harapan kecil bahwa kebutuhan dasar masyarakat suatu hari nanti tidak lagi terasa rapuh.