Artikel Lainnya

29 April 2026

Ketika Minuman Bukan Lagi Soal Haus


“Gess… pernah nggak sih cuma niat beli minuman, tapi ujungnya merasa seperti sedang meng-upgrade versi hidup sendiri?”

Di banyak kota, segelas minuman sekarang tidak lagi sekadar soal haus. Ia menjadi alasan kecil untuk berhenti sejenak, duduk, mengambil foto, lalu mengunggahnya ke media sosial sebelum benar-benar diminum. Dalam momen sederhana itu, minuman berubah fungsi: dari kebutuhan menjadi representasi diri.

Jika dilihat lebih dalam, ada perubahan cara kita memberi nilai pada sesuatu. Manusia tidak hanya membeli berdasarkan fungsi, tetapi juga berdasarkan rasa dan makna sosial yang menyertainya. Di era media sosial, terutama TikTok dan Instagram, minuman estetik bekerja sebagai pemicu visual yang sangat cepat diproses oleh otak. Warna, tekstur, dan tampilan rapi memberi sinyal “menyenangkan”, sementara unggahan di media sosial memberi lapisan tambahan berupa validasi sosial.

Fenomena ini terlihat jelas di keseharian. Di banyak coffee shop urban, satu gelas iced matcha atau pistachio latte bisa dihargai setara dengan makan siang sederhana, bahkan lebih mahal. Laporan industri makanan dan minuman di Indonesia, termasuk yang pernah dibahas oleh media seperti CNBC Indonesia dan Katadata, menunjukkan bahwa pertumbuhan coffee shop tidak hanya didorong oleh kebutuhan kafein, tetapi oleh pengalaman dan nilai visual yang bisa dibagikan di media sosial.

Di TikTok sendiri, konten seperti #matcha, #coffeeshop, atau “what I ordered vs what I got” terus berulang dan viral, bukan semata karena rasa minumannya, tetapi karena tampilannya yang menarik untuk dilihat dan dibagikan. Dari sini terlihat bahwa konsumsi tidak lagi berhenti di lidah, tetapi juga berlanjut ke layar.

Namun, jika hanya dilihat dari sudut itu, fenomena ini akan terasa terlalu sederhana. Karena di balik kebiasaan ini, ada kebutuhan yang lebih manusiawi. Banyak orang membeli minuman estetik bukan hanya karena tren, tetapi karena mereka sedang mencari jeda kecil di tengah ritme hidup yang cepat. Segelas minuman bisa menjadi bentuk sederhana dari self-reward, cara paling mudah untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa istirahat itu diperbolehkan.

Di sisi lain, industri juga merespons kebutuhan ini dengan sangat adaptif. Banyak brand lokal tumbuh bukan hanya karena produk yang mereka jual, tetapi karena kemampuan mereka membaca perubahan perilaku konsumen: bahwa pengalaman visual kini sama pentingnya dengan rasa.

Jika semua ini dirangkai, muncul satu pertanyaan yang lebih jujur untuk direnungkan. Apakah kita benar-benar menikmati minuman yang kita beli, atau kita sedang menikmati versi diri kita sendiri yang terlihat lebih rapi ketika memegangnya di depan kamera?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita membayangkan kondisi sederhana: tidak ada kamera, tidak ada story, tidak ada likes. Dalam situasi itu, apakah minuman yang sama masih terasa memiliki nilai yang sama?

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan membeli minuman estetik. Ia bisa tetap menjadi bentuk kecil dari kebahagiaan sehari-hari. Namun yang mungkin perlu disadari adalah alasan di balik pilihan itu—apakah kita memilih karena rasa, atau karena citra yang ingin kita tampilkan.

Karena minuman itu sendiri akan habis dalam beberapa menit. Tetapi cara kita memahami diri sendiri melalui hal-hal kecil seperti ini, akan tinggal lebih lama daripada yang kita kira.

Kenapa Kita Nggak Bisa Berhenti Scroll?


Pernah nggak sih, kamu cuma niat buka satu video… lalu tiba-tiba sudah 30 menit lewat, dan kamu bahkan lupa tadi mau ngapain? Tenang, kamu bukan satu-satunya. Jempol kita kadang seperti punya hidup sendiri—lebih konsisten dari niat bangun pagi.

Lucunya, kita sering bilang “cuma bentar.” Padahal “bentar” di dunia scroll itu bisa berubah jadi setengah jam tanpa terasa. Waktu seperti hilang pelan-pelan, bukan karena kita tidak sadar, tapi karena kita terlalu larut di dalamnya.

Sebenarnya, ini bukan soal kamu kurang disiplin. Platform memang dirancang untuk membuat kita terus lanjut. Setiap swipe seperti janji kecil: mungkin video berikutnya lebih menarik. Dan seringkali… memang iya.

Otak kita menyukai hal yang baru, cepat, dan mengejutkan. Setiap konten memberi rasa puas dalam dosis kecil. Bukan kebahagiaan besar, tapi cukup untuk membuat kita berkata, “satu lagi deh.” Dan di situlah siklusnya berjalan tanpa kita sadari.

Masalahnya, “satu lagi” itu jarang benar-benar satu. Kita tidak benar-benar mencari sesuatu yang spesifik. Kita hanya terus mengikuti alur yang terasa ringan, tanpa perlu berpikir terlalu banyak.

Menariknya, kita sering tidak sedang mencari informasi. Kita sedang mencari rasa—hiburan, pelarian, atau sekadar mengisi ruang kosong di kepala. Scroll menjadi cara paling mudah untuk tidak merasa sendirian dengan pikiran sendiri.

Dan karena selalu ada konten berikutnya, kita tidak pernah benar-benar berhenti. Selalu ada sesuatu yang bisa dilihat, sesuatu yang bisa dirasakan, meskipun hanya sebentar.

Tapi setelah selesai, kita jarang merasa puas. Yang ada justru lelah, sedikit kosong, tapi anehnya tetap ingin lanjut. Seperti makan camilan tanpa pernah benar-benar kenyang.

Bukan berarti ini salah. Kita semua butuh jeda, butuh hiburan. Scroll juga bagian dari itu. Tidak semua harus produktif, tidak semua harus bermakna.

Tapi mungkin sesekali, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: kita sebenarnya sedang mencari apa? Apakah benar kita butuh konten itu, atau hanya tidak ingin merasa kosong?

Kalau jawabannya yang kedua, mungkin yang kita butuhkan bukan video berikutnya. Tapi sedikit ruang untuk diam—tanpa distraksi, tanpa scroll, tanpa harus ke mana-mana.

Dan di situ, kita mungkin baru sadar: bukan waktunya yang habis. Tapi perhatian kita yang pelan-pelan terkuras.

11 Mei 2017

Indonesia Pasar Terbesar Online Shopping di Asia Tenggara

Indonesia Pasar Terbesar Online Shopping di Asia Tenggara
Akses internet yang semakin cepat akan mendorong tumbuhnya bisnis online shopping dalam beberapa tahun mendatang. Didukung oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup dalam memanfaatkan berbagai inovasi di bidang teknologi komunikasi.

Demikian laporan bank UBS yang dirilis baru-baru ini mengenai perkembangan bisnis online di Asia. Indonesia diperkirakan bakal mengalami lonjakan seperti yang dialami Cina dalam beberapa tahun terakhir, ketika berbagai perusahaan online muncul dan merambah pasar.

Sampai tahun 2020, belanja online di Asia Tenggara diperkirakan naik lima kali lipat, mencapai nilai US$ 35 miliar per tahun.

Online shopping akan berkembang di Thailand dan Filipina, tetapi Indonesia adalah pasar yang paling menjanjikan, walaupun saat ini penetrasi internetnya masih terhitung rendah, demikian disebutkan UBS.

Akan tumbuh pesat

Para pengamat mengharapkan, akhir 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 125 juta orang, sebuah lonjakan besar dari 55 juta pengguna tahun 2012. Pengamatan ini berdasarkan pertumbuhan kelas menengah yang makin luas.

"Ini adalah peluang besar", kata Daniel Tumiwa, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia. "Kelas menengah akan menjadi kekuatan pendorong yang sangat, sangat, sangat besar".

Bisnis online di kawasan Asia Tenggara memang tumbuh pesat, didorong oleh perkembangan pesat teknologi smartphones yang makin lama makin murah. Para analis mengatakan, banyak pengguna smartphones yang mulai menikmati kemudahan berbelanja online dan tertarik dengan iklan-iklan yang disebarkan lewat media sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali perusahaan online didirikan. Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari mode/fashion, peralatan elektronik, alat-alat rumah tangga dan lain-lain.

Investasi besar

Salah satu situs belanja online yang terbesar di Indonesia saat ini adalah Tokopedia.com, yang didirikan 2009. Jutaan produk tersedia di situs ini. Tokopedia berhasil menggaet investasi US$ 100 juta dari Bank Jepang Softbank dan investor Amerika Sequoia Capital.

Ini adalah investasi online shopping yang terbesar di Indonesia. Sequoia Capital adalah investor dari Silicon Valley yang sudah sukses mengorbitkan beberapa bisnis online termasuk WhatsApp.

Tapi masih banyak situs belanja online yang lain. Salah satunya Lazada, didirikan tahun 2012 dan beroperasi di enam negara Asia Tenggara. Lazada mendapat dukungan dana besar dari perusahaan negara Singapura, Temasek..

Namun jalan masih panjang untuk para pelaku bisnis belanja online di Indonesia, karena ada berbagai regulasi yang menghambat. Terutama karena pemerintah sekarang melarang investasi asing di bidang E-Commerce. Pendiri Tokopedia, William Tanuwijaya mengakui, Indonesia masih punya rintangan besar. "Indonesia bukan Silicon Valley", tandasnya.*

20 November 2016

Melihat Prospek Ekonomi Indonesia 2017

Prospek Ekonomi Indonesia 2017
Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil, hal ini didorong oleh konsumsi swasta dan didukung peningkatan belanja pemerintah. "Stabilitas ekonomi kita terjaga, walaupun investasi pemerintah pada triwulan terakhir tidak terlalu baik. Karena kita sedang meng-adjust perkembangan ekonomi. Namun cadangan devisa kita meningkat, dan inflasi juga terkendali."jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Penyampaian Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017, di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Darmin menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan reformasi di bidang ekonomi. "Pada 2014 pemerintah telah mengalihkan subsidi BBM ke pembangunan infrastruktur dan bantuan sosial. Perubahan alokasi subsidi yang awalnya hanya untuk BBM kemudian dialihkan ke infrastruktur menjadi dasar untuk yakinkan negara lain untuk berinvestasi di Indonesia."tambahnya.

Milestone pembangunan infrastruktur 2016 adalah percepatan infraatruktur. Hal ini ditunjukkan dengan komitmen pemerintah dengan mengembangkan proyek pipeline untuk dorong pembangunan infrastruktur. Selain itu perlu  perbaikan iklim usaha dan mengembangkan kebijakan yang mempermudah investasi infrastruktur."Proyek Strategis Nasional Indonesia sentris mencakup 225 proyek dan 1 program kelistrikan yang tersebar di seluruh Indonesia dan meliputi 14 sektor." ungkap Darmin.

Prospek Ekonomi Indonesia ke Depan

Berdasarkan asumsi APBN 2017 maka diproyeksikan bahwa pada tahun 2017 Indonesia akan tumbuh sebesar 5.1% dengan tingkat inflasi yang terjaga. "Pertumbuhan yang lebih tinggi didorong oleh reformasi fiskal melalui pengurangan subsidi dan penargetannya yang lebih baik serta strategi penerimaan jangka menengah yang fokus pafa keberlanjutan. Kemudian kita perlu melanjutkan reformasi struktural Paket Kebijakan Ekonomi Tahap 2."jelas Darmin.

Peningkatan daya saing industri sendiri dijelaskan oleh Menteri Darmin dilakukan melalui hilirisasi industri. Dimana akselerasi industrialisasi dilakukan melalui pengembangan perwilayahan industri di luar Jawa, Pertumbuhan populasi industri dan peningkatan produktivitas serta daya saing. Terutama untuk industri kimia, tekstil, dan aneka; industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika; dan industri argo.

Beberapa Menteri turut hadir pada Penyampaian Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017, diantaranya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Dalam Negeri  Tjahjo Kumolo , dan Kepala  Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.*

kominfo.go.id

17 November 2016

Presiden Ingin Buah Nusantara Kuasai Pasar Dunia

Presiden Ingin Buah Nusantara Kuasai Pasar Dunia
Presiden Joko Widodo menginginkan Indonesia mendominasi pasar ekspor buah di dunia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta juga menanam buah.

"Perlu memperbesar kapasitas produksi sehingga kita harapkan ekspor buah-buahan kita bisa naik. Ke depan kita juga ingin meningkatkan BUMN agar tidak hanya nanamnya sawit, karet," kata Jokowi dalam acara Fruit Indonesia 2016 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Presiden menginginkan ada lahan hingga 50 ribu hektare khusus untuk menanam buah-buahan. Tahun ini, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Institut Pertanian Bogor mulai membangun daerah-daerah khusus yang memiliki potensi dikembangkan.

Menurut dia, saat ini Indonesia memang masih kekurangan buah seperti manggis, nanas, dan alpukat. Padahal, kata dia, permintaan dari luar terhitung banyak.

"Kalau pisang itu kita masih kalah dengan negara lain, tapi yang barang ini kita punya kekuatan," jelas dia.

Jokowi mengatakan, salah satu yang harus diperhatikan ialah masalah pascapanen. Pemotongan, seleksi, hingga pengemasan buah harus diperhatikan.

"Diseleksi mana yang kualitas a, kualitas b, kualitas c," papar dia.

Genjot Daya Saing Buah Lokal

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) diminta untuk terus menggenjot produksi buah lokal dengan kualitas setara buah impor. Permintaan itu langsung diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo dalam acara Fruit Indonesia 2016, Parkir Timur Senayan.

Dalam sambutannya, Jokowi menyebut bahwa buah lokal Indonesia hanya masuk dalam 20 perdagangan global. Pengelolaan menjadi kendala utama kualitas buah lokal tertinggal dari buah-buah impor.

"Saya minta agar buah-buah lokal dikelola dengan baik. Saya perintahkan ke Menteri Pertanian. Kalau kelapa sawit bisa mencapai 14 juta hektare (ha), mestinya buah-buahan pun seperti yang dimiliki sawit. Kalau itu betul-betul, pasar buah dunia akan dikuasai Indonesia," ujar Jokowi, di Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Menteri Kordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, meningkatnya konsumsi buah menjadi jalan bagi buah lokal untuk menggenjot produksi dan kualitas. Keunggulan yang diakuinya berbeda dengan buah impor harus ditampilkan untuk meraup pasar buah dalam negeri dan global.

"Sudah saatnya Indonesia menampilkan keunggulannya baik di tingkat nasional maupun internasional di tengah meningkatnya konsumsi buah dunia," tutur dia.

Sementara itu, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto mengungkapkan, acara Fruit Indonesia 2016 merupakan bagian dari Gerakan Revolusi Orange yang digagas pemerintah.

"Revolusi Orange sebagai kampanye buah nusantara bertaraf internasional yang memamerkan produk-produk unggulan potensial ekspor dan juga mendatangkan buyer internasional," papar dia.

Dia menjelaskan, Revolusi Orange merupakan gerakan nasional yang digagas oleh kelompok masyarakat yang difasilitasi oleh IPB sebagai upaya mengubah secara revolusioner pengembangan, kebijakan dan pasar buah nusantara melalui dukungan dan fasilitas pengembangan produksi berbasis kawasan perkebunan.

"Kemudian, kampanye konsumsi buah nusantara, peningkatan ekspor buah tropis serta penurunan ketergantungan buah impor," tegas Herry.

Dalam Fruit Indonesia 2016, akan pula dilaksanakan program bertaraf international seperti Exhibition, Business Matchmaking, Conference/Forum, Export Business Coaching. Serta program bertaraf nasional yaitu Fruit Arrangement Contest, Fruitpreneur Got Talent, Sales Exhibition, Carnival, Various Competition.

Event ini dihadiri tak  kurang dari 15 ribu pengunjung nasional dan internasional yang terdiri dari Pelaku Bisnis, Produsen Olahan Makanan dan Minuman, Asosiasi atau Kamar Dagang Negara Tujuan Ekspor, Institusi Pemasaran Internasional, Institusi Kerjasama Perdagangan Internasional. Produsen dalam negeri, Collector, Perusahaan Pengolahan, Pengemas, Pedagang, Eksportir, Outlet Modern Eceran Institusi Pemerintah dan Masyarakat Umum.

Negara-negara yang akan hadir meliputi negara ASEAN (sembilan negara), Asia (Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea Selatan), Timur Tengah (UAE, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Jordan), Australia, New Zealand, Eropa dan Amerika. Melibatkan 10 ribu peserta karnaval dan 500 eksibitor.

Acara yang diklaim bertaraf internasional ini juga akan menampilkan Benih dan Bibit Buah, Pupuk, Pestisida dan Hormon, Buah Segar, Buah Olahan, Industri Kesehatan berbahan baku buah, Industri Pariwisata berbasis kebun buah nusantara meliputi peralatan pertanian, mesin pertanian, media pertanian, outlet buah dan lembaga keuangan.*


metronews.com

2016: Impor Barang Konsumsi Justru Tumbuh 14 Persen

2016: Impor Barang Konsumsi Justru Tumbuh 14 Persen
Sepanjang Januari-Oktober 2016, nilai impor barang konsumsi mencatat pertumbuhan 13,75 persen menjadi US$ 10 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa sektor konsumsi masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Sementara nilai impor bahan baku periode Januari - Oktober 2016 mengalami penurunan 8,6 persen menjadi US$ 82,1 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula impor barang modal pada Januari-Oktober 2016 juga menyusut 11,8 persen menjadi US$ 18,04 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa perekonomian domestik masih lesu sehingga kebutuhan bahan baku dan barang modal turun.

Total nilai impor Indonesia pada Januari-Oktober 2016 mencapai US$ 110,17 miliar turun 7,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula total nilai ekspor  Januari-Oktober 2016 juga turun 8,04 persen menjadi US$ 117,09 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya.*

katadata