29 April 2026

Kenapa Kita Nggak Bisa Berhenti Scroll?


Pernah nggak sih, kamu cuma niat buka satu video… lalu tiba-tiba sudah 30 menit lewat, dan kamu bahkan lupa tadi mau ngapain? Tenang, kamu bukan satu-satunya. Jempol kita kadang seperti punya hidup sendiri—lebih konsisten dari niat bangun pagi.

Lucunya, kita sering bilang “cuma bentar.” Padahal “bentar” di dunia scroll itu bisa berubah jadi setengah jam tanpa terasa. Waktu seperti hilang pelan-pelan, bukan karena kita tidak sadar, tapi karena kita terlalu larut di dalamnya.

Sebenarnya, ini bukan soal kamu kurang disiplin. Platform memang dirancang untuk membuat kita terus lanjut. Setiap swipe seperti janji kecil: mungkin video berikutnya lebih menarik. Dan seringkali… memang iya.

Otak kita menyukai hal yang baru, cepat, dan mengejutkan. Setiap konten memberi rasa puas dalam dosis kecil. Bukan kebahagiaan besar, tapi cukup untuk membuat kita berkata, “satu lagi deh.” Dan di situlah siklusnya berjalan tanpa kita sadari.

Masalahnya, “satu lagi” itu jarang benar-benar satu. Kita tidak benar-benar mencari sesuatu yang spesifik. Kita hanya terus mengikuti alur yang terasa ringan, tanpa perlu berpikir terlalu banyak.

Menariknya, kita sering tidak sedang mencari informasi. Kita sedang mencari rasa—hiburan, pelarian, atau sekadar mengisi ruang kosong di kepala. Scroll menjadi cara paling mudah untuk tidak merasa sendirian dengan pikiran sendiri.

Dan karena selalu ada konten berikutnya, kita tidak pernah benar-benar berhenti. Selalu ada sesuatu yang bisa dilihat, sesuatu yang bisa dirasakan, meskipun hanya sebentar.

Tapi setelah selesai, kita jarang merasa puas. Yang ada justru lelah, sedikit kosong, tapi anehnya tetap ingin lanjut. Seperti makan camilan tanpa pernah benar-benar kenyang.

Bukan berarti ini salah. Kita semua butuh jeda, butuh hiburan. Scroll juga bagian dari itu. Tidak semua harus produktif, tidak semua harus bermakna.

Tapi mungkin sesekali, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: kita sebenarnya sedang mencari apa? Apakah benar kita butuh konten itu, atau hanya tidak ingin merasa kosong?

Kalau jawabannya yang kedua, mungkin yang kita butuhkan bukan video berikutnya. Tapi sedikit ruang untuk diam—tanpa distraksi, tanpa scroll, tanpa harus ke mana-mana.

Dan di situ, kita mungkin baru sadar: bukan waktunya yang habis. Tapi perhatian kita yang pelan-pelan terkuras.